Belajar Melepas Anak, Tantangan Terberat Orangtua

Salah satu hal yang harus para orangtua lakukan dalam menjalani perannya adalah belajar. Suka atau tidak suka, hal itu harus dilakukan kalau mereka ingin putra putri kesayangan menjadi manusia yang bisa mandiri.

Tahap belajar yang menjadi tantangan terberat bagi para bapak dan ibu adalah tahap belajar melepas anak. Sebuah perkara yang terlihat sepele tetapi banyak menghadirkan kesulitan bagi banyak orangtua.

Beberapa hari yang lalu, istri saya bertemu dengan sepupunya sesama ibu di tukang cukur. Keduanya sedang “menemani” putra semata wayang mereka.

Bedanya adalah, istri saya datang ke sana karena ia sedang iseng dan ingin berjalan-jalan dan kebetulan karena putra kami, si Kribo cilik hendak keluar, ia memutuskan untuk ikut. Putra kami yang menyetir kendaraan dan ibunya duduk manis di sampingnya. Sedangkan, sang sepupu, ia menyetir mobil dan mengantarkan putranya.

Selama di sana ia bercerita kalau selama ini dirinya masih mengantar anaknya ke berbagai kegiatan, mulai dari yang sederhana, seperti pergi ke tukang cukur, sampai ke acara perpisahan sekolah.

Tidak akan menjadi sebuah masalah kalau si anak masih di bawah usia dewasa. Putranya hanya berbeda beberapa bulan dengan putra kami dan segera menjadi mahasiswa tahun ini. Namun, berbeda dengan si Kribo, putranya masih belum bisa mengendarai motor atau mobil karena belum pernah dilatih. Ibunya memutuskan bahwa hal itu masih “terlalu berbahaya” bagi putranya.

Sebuah perbedaan yang terlihat kecil, padahal sebenarnya besar.

Kami sebagai orangtua sudah memasuki tahap lanjut dalam proses belajar melepas anak. Sementara si sepupu tadi masih di tahap awal dan mungkin saja belum dimulai sama sekali. Hal itu terlihat dari “kemampuan” putranya untuk berdiri sendiri.

Sebuah masalah yang pada akhirnya bisa melahirkan banyak masalah, seperti

  • sang anak tidak berkembang dan memiliki kemampuan yang cukup untuk bisa berdiri sendiri dan akan lebih lama tergantung pada kedua orangtuanya
  • melahirkan rasa malu bagi sang anak karena ia tidak bisa bergaul seperti layaknya manusia seusianya karena kehadiran sang ibu yang menemani kemana-mana
  • menghadirkan penghalang sosialisasi bagi sang anak karena teman-teman seusianya tentu akan merasa risi harus melibatkan orangtua dalam pergaulan
  • sang anak akan menjadi manja dan tidak terbiasa menghadapi masalah kehidupan seorang diri, ia akan terbiasa mengandalkan sang ibu dalam mencarikan solusi

Pada akhirnya, kemungkinan besar sang anak akan tidak terbiasa berhadapan dengan kenyataan di kehidupan.

Itulah alasan mengapa saya selalu berkata bahwa para orangtua harus terus mau belajar, belajar dan belajar.

Salah satunya adalah belajar untuk bersiap bahwa pada suatu waktu sang anak melepaskan diri dari kita sebagai orangtuanya.

Bukan sebuah hal yang mudah karena keterikatan yang begitu kuat antara orangtua dan anak. Kita terbiasa dan menyukai ketika anak bergantung kepada kita. Kita merasa menjadi super hero dan penting.

Teramat sukanya kita menjalani peran orang penting bagi sang anak tidak terasa membuat kita menjadi kecanduan. Kita sulit menerima pada akhirnya, peran kita, orangtua akan mengecil dan pada akhirnya akan tergantikan oleh orang lain, seperti istri dan anak.

Hal lain yang membuat para orangtua terkadang tidak mau melepaskan anaknya menjalani hidupnya sendiri adalah kekhawatiran dan ketakutan. Kita sering merasakan dunia begitu keras dan kejam. Naluri sebagai orangtua mendorong kita untuk terus melindung putra-putri kita dari kerasnya hidup.

Sampai terkadang kita lupa kalau kondisi kita suatu waktu akan menurun dan tidak bisa lagi memberikan perlindungan yang baik kepadanya. Juga, kita sering lupa kalau sang anak akan tumbuh dan pada akhirnya akan menjadi lebih kuat dari orangtuanya.

Tanpa belajar, situasi seperti ini tidak akan bisa dihadapi dengan baik. Ego orangtua dalam diri kita adalah terus berusaha agar putra putri kita terlindungi dan berada di dekat kita. Padahal, jika hal itu dilakukan terus menerus, bukan kebaikan yang akan hadir, tetapi masalah, seperti yang ditulis di atas.

Sang anak tidak bisa berkembang menjadi manusia seutuhnya.

Oleh karena itulah, para orangtua harus mau belajar melepas anak mereka. Bukan demi kita, tetapi demi anak yang kita sayang.

Kenapa? Karena umumnya, orangtua akan “pergi” lebih dulu meninggalkan anak. Ia tidak bisa lagi berlindung kepada orangtuanya. Ia harus bisa menemukan solusi bagi sebuah masalah sendiri karena orangtuanya tidak ada lagi.

Hal itu tidak akan bisa dilakukannya kalau ia tidak memiliki skill dan kemampuan karena terkekang oleh orangtuanya yang terlalu melindungi dirinya. Ia terbiasa bergantung kepada orangtuanya sehingga ketika ia harus berdiri sendiri, ia akan menjadi seseorang yang lemah dan tak berdaya.

Untuk menghindari hal ini terjadi, kunci utamanya ada pada kesiapan dan keberanian para orangtua untuk melepaskan anak mereka. Tanpa itu, tembok besar penghalang akan terus ada dan tidak tertembus.

Pertanyaannya relakah kita sebagai orangtua melakukannya dan bahkan mendukung sang anak untuk belajar menemukan dunianya sendiri dengan perlahan melepaskan keterikatan mereka kepada kita?

Saya dan istri, meski tetap berat dan khawatir, sudah menunjukkan perkembangan. Kami perlahan sudah melepas si Kribo untuk membentuk dunianya sendiri. Kami memperlengkapi dirinya dengan berbagai skill yang mungkin berguna baginya, seperti mengendaria mobil, motor, dan banyak hal lainnya.

Juga, meski rasa was-was ada, kami membiarkannya keluar dari dunia yang biasa kami temui. Ia hampir pasti akan menemukan banyak masalah saat kami tidak berada di sisinya.

Semua itu adalah latihan bagi dirinya karena suatu waktu hal itu akan terjadi. Dengan begitu, kami berharap pada saatnya, ketika kami sudah tiada, ia sudah terlatih menghadapi dunia. Dengan begitu tugas kami sebagai orangtua sudah terlaksanakan dengan baik.

Sejauh ini, kami sudah cukup berkembang, meski harus tetap belajar. Sayangnya, mendengar cerita sang sepupu, masih banyak orangtua yang bahkan belum belajar untuk melepaskan anak mereka.