Istilah Pelakor Membuat Kaum Pria Seperti Makhluk Suci Yang Rendah

Lucu. Yah, memang begitulah yang saya rasakan setiap kali membaca istilah pelakor atau perebut laki orang dimanapun. Beberapa tahun belakangan ini memang kata ini menjadi tren di masyarakat Indonesia dan digunakan secara masif oleh berbagai kalangan.

Bukan hanya dalam kehidupan keseharian di dunia nyata saja, tetapi bahkan media resmi pun tidak malu-malu lagi menggunakan istilah yang sebenarnya rancu dan kurang mewakili kenyataan di lapangan.

Entah siapa pencetus kata ini tetapi sekarang masyarakat menjadi gandrung memakainya tanpa menyadari kalau istilah ini berat sebelah sekali. Kata pelakor menempatkan manusia pada posisi sebagai makhluk suci dan saat bersamaan sekaligus merendahkannya pada posisi terendah.

Coba saja bayangkan sendiri.

Kata perebut dalam singkatan pelakor berdasar pada kata “rebut” mengandung makna diambil paksa dari tangan seseorang ke tangan lainnya.

Kata ini mengandung makna dimana “sesuatu” yang direbut tidak memiliki daya upaya untuk menolak.

Misalkan, adik dan kakak memperebutkan buku cerita yang baru dibeli. Bisakah buku menolak untuk itu? Tidak. Buku hanya bisa diam dan pasrah.

Jadi, kata pelakor sendiri menganggap bahwa seorang suami sebagai barang atau benda saja. Yang artinya lebih rendah dari kodratnya sebagai seorang laki-laki, manusia.

Di sisi lain, kata ini juga menempatkan kaum pria sebagai makhluk suci, yang tidak punya akal pikiran dan tidak pernah berbuat salah.

Kata rebut juga bermakna paksa. Jadi istilah pelakor menimpakan kesalahan pada wanita lain yang merebut seorang pria, suami wanita lain di luar kehendak si pria.

Padahal, perselingkuhan tidak pernah terjadi seperti itu. Peristiwa ini terjadi karena “kemauan” pihak si pria sendiri. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi kalau seorang pria bisa menahan diri dan tahu batas.

Seberapapun kuatnya si wanita menggoda, tetapi kalau si pria menolak, tidak akan ada yang namanya perselingkuhan. Selingkuh terjadi karena sang pria menerima dan bahkan memulai.

Secara fisik juga hampir pasti tidak ada pemaksaan dari pihak si wanita penggoda karena tenaga dan fisik pria biasanya lebih kuat. Perebutan secara paksa sulit terjadi.

Tapi, dalam istilah pelakor, semua itu terjadi. Wanita yang dianggap pelakor akan menerima semua beban kesalahan dari sebuah perselingkuhan dan mendapat kecaman. Sementara, sang pria dipandang sebagai makhluk suci yang dengan terpaksa melakukan perselingkuhan.

Oleh karena itu, cukup mengherankan juga bahwa istilah pelakor menjadi begitu populer dan memasyarakat. Padahal, singkatan ini mengandung banyak unsur yang tidak nyata.

Istilah ini menempatkan pria sebagai makhluk yang suci dan tidak bisa salah, tetapi di sisi lain juga direndahkan karena dianggap sebagai barang/benda yang tidak bisa berpikir dan punya kemauan.

Tapi, ya begitulah adanya masyarakat, sesuatu yang umum kerap sebenarnya bukan sesuatu yang benar.